Skip to main content

Posts

Do you ever feel sick of being you.......

Sepertinya harus belajar lagi saying no and setting boundaries . . Disaat ini seperti sudah muak menjadi people-pleaser . Saying 'yes' because I am worried about disappointing someone or not being supportive enough to them. I am so fuckin tired of doing that.  Beberapa teman bilang kalau aku 'sungkan' nya udah keterlaluan. Bener-bener ngga tau gimana cara nolak orang, dan berakibat nyusahin diri sendiri. To be honest, I was a real pushover. Tidak tau bagaimana cara membentuk batasan untuk berani menolak, mengatakan apa yang kusuka dan tidak, memutuskan berdasarkan apa yang ku inginkan.  Dulu sempat berpikir kalau selalu meng-iya-kan keinginan orang-orang, it made me easygoing, likeable. Dan selalu meyakinkan diri sendiri kalau "tidak apa-apa jadi baik".  L ittle did I know that it really just made me lost, confused, and pretty unlikable, hanya jika aku benar-benar tidak bisa membuat batasan tersebut .  I think I am being pleasant, agreeable, and drama-free, bu...

An Usual Gift

22 .  Waktu yang lalu, beberapa hal menjadi semakin buruk. Kembali menjadi pemurung. Overthinking yang makin parah dan memusingkan. Jika bisa digambarkan melalui kurva, tingkat kepercayaan diri kian turun drastis, mencapai titik terbawah. Mulai bingung dan menebak-nebak apa yang akan terjadi di masa mendatang nanti. Masih belum mengerti bagaimana cara menikmati hidup dengan rasa penuh bahagia suka cita. Mulai melirik kehidupan orang lain dan membandingkannya. Perasaan stuck di tempat dan masih terdiam di garis start.  Apakah ini yang orang-orang sebut dengan tanda Quarter-Life-Crisis ?  Ataukah ini hanya sisi-sisi negatif dari diri sendiri yang pesimis, anxious , yang kian memburuk dan tak tahu cara mengatasinya?  Yes, it makes me kinda feel bad for myself. Di 23 ini, semoga bisa menghadiahi diri sendiri dengan sebuah perasaan syukur , penerimaan kekurangan diri , penghargaan atas effort yang melelahkan yang telah dijalani, dan berharap tak lagi menjalani kehidu...

Call it Anxiety#Short2

     Saat ini sedang merasa dan menyadari bahwa diri ini semakin penuh dengan sifat dan sikap sikap yang amat toxic. Mulai dari suka mengeluh, slalu berprasangka buruk terhadap orang lain, menghujat, dengki, bahkan memprovokasi orang lain untuk turut membenci apa yang diri ini tidak sukai. Diri ini menjadi sungguh penuh dengan perilaku-perilaku jahat dan bahkan terkesan sangat tak beradab. Semua hal toxic itu memang sudah sangat disadari, namun entah kenapa sikap buruk tersebut telah menjadi seperti candu dan untuk menghilangkannya terasa amat sulit. Mungkin karna beberapa waktu ini pendekatan kepada sang pencipta mulai kendur. Serta juga karna telah menjadi seorang yang kufur nikmat. Dan mungkin sudah saatnya keintiman dengan tuhan harus direkatkan lagi, akhlak harus diperbaiki kembali, dan slalu ingat untuk bersyukur pada Ilahi. Dearest myself, semangat perbaiki diri. Source pic: google.com/inkpainting

Call it Anxiety#Short1

      Lately I've been losing sleep.  Setiap malam terfikirkan sesuatu yang sedikit banyak menguras kinerja otak. Pikiran pikiran mengenai masa depan, pencarian jati diri yang terus berlanjut, masalah masalah yang mungkin akan timbul serta bagaimana menemukan problem-solving nya. Serta mempelajari bagaimana menempatkan diri dalam berbagai situasi yang sangat tak mengenakkan yang mungkin akan terjadi. Semua itu kian menggema dalam benak semakin bertambahnya usia diri ini.       Sebagian diri sadar bahwa semua kecemasan tersebut hanya perlu dihadapi saja, tanpa perlu pusing-pusing untuk dipikirkan sekarang, tanpa perlu menduga-duga apa yang akan terjadi di masa mendatang. Ah tapi aku tau betul bagaimana cara kerja pikiranku sendiri, suka mencemaskan sesuatu yang mungkin belum tentu terjadi. Namun bukankah merencanakan sesuatu, memprediksikan apa yg akan terjadi dan akibatnya, itu membuat kita menjadi lebih waspada? Selain memperkiran yang baik...

Dendam untuk Sebuah Penderitaan

Januari, 2001.       Sipir itu mendorongku dengan keras ke dalam sel. Borgol itu telah dilepas dari tanganku. Para tahanan wanita lain memelototiku dengan mata tajam. Aku menatapnya balik dengan ekspresi datar. Ku sembunyikan segala kebengisan yang telah kuperbuat di dalam wajah ayu dan tatap mataku yang sendu. Tak ada yang berani mengajakku berbicara. Mungkin mereka telah mengetahui bahwa aku telah membunuh seorang lelaki tua. Ya, itulah sebabnya aku berakhir sampai di tempat ini.. • Juli, 2000.       Namaku Siti Nurbaya. Panggil saja aku Aya. Orang-orang kadang juga memanggilku Siti, ataupun Nur. Tapi aku lebih suka jika dipanggil Aya, seperti mas Bahri dulu biasa memanggilku. Kata orang-orang desaku hidupku terlampau beruntung. Punya paras elok, raut muka ayu dan diperistri oleh saudagar kayaraya. Karna sangat langka sekali gadis-gadis di desa ini bisa mempunyai suami seorang saudagar kaya. Ya, orang-orang desa ini masih banyak yang memuja...

Children n My Life

     “Nanti kalo aku udah gede pingin jadi seperti mbak ah, sabar, dan punya les-les an sendiri dan mau ngajari anak nakal kayak aku hehe”       Sore ini sama seperti sore-sore sebelumnya. Telinga ini sudah tidak asing lagi mendengar celotehan anak-anak kecil yang sedang belajar, bertanya, memanggil-manggil “mbak aku ada pr, bantuin ya…”, “mbak artinya kenouu (know) itu apa?” , “soal ini sulit sekali mbak aku ga bisa…”, “kalo ngasih soal jangan banyak-banyak yaa..”  ya begitulah pertanyaan yang sering muncul pada setiap sore yang kujalani. Rutinitas ini terlihat membosankan, tapi percayalah ini sangat menantang! Memahami mereka yang masih kecil sama sulitnya seperti memahami orang dewasa pada umumnya, tentunya ini -sulit-  menurut ukuranku. Namun, semenjak bekerja bersama anak-anak kecil membuat diriku tersadar akan hal-hal kecil yang mampu membuat bahagia, ya terkadang ada pula hal-hal “annoying” yang tak terhindarkan yang terjadi hehe. Mesk...