Skip to main content

Do you ever feel sick of being you.......

Sepertinya harus belajar lagi saying no and setting boundaries. . Disaat ini seperti sudah muak menjadi people-pleaser. Saying 'yes' because I am worried about disappointing someone or not being supportive enough to them. I am so fuckin tired of doing that. 

Beberapa teman bilang kalau aku 'sungkan' nya udah keterlaluan. Bener-bener ngga tau gimana cara nolak orang, dan berakibat nyusahin diri sendiri. To be honest, I was a real pushover. Tidak tau bagaimana cara membentuk batasan untuk berani menolak, mengatakan apa yang kusuka dan tidak, memutuskan berdasarkan apa yang ku inginkan.  Dulu sempat berpikir kalau selalu meng-iya-kan keinginan orang-orang, it made me easygoing, likeable. Dan selalu meyakinkan diri sendiri kalau "tidak apa-apa jadi baik". 

Little did I know that it really just made me lost, confused, and pretty unlikable, hanya jika aku benar-benar tidak bisa membuat batasan tersebut. I think I am being pleasant, agreeable, and drama-free, but concealing the true self does no one any good. It just makes me feel like people unappreciated me because I am surrounded by rude, greedy, and unforgiving people who, rather than appreciating that I've prioritized their needs. Hmmm.................(to be continued, alias masih mikir)

Note for myself:

I learned that even with all the saying "treat people the way you want to be treated," not everyone will treat me the same way I treat them. And I should remember, there’s a fine line between being kind and let people take me for granted. 

Comments

Popular posts from this blog

Random thought I

 Gedung-gedung ini begitu megah dan menjulang tinggi. Seakan mereka ingin menantang langit. Aku berdiri di depan bangunan yang terlihat amat kokoh sambari mendongak. Sepintas merasa kerdil dan hampa. Namun, bukankah menatap langit selalu membuat tenang? Meski amat terik dan polusi mengudara di seluruh penjuru kota dan tiada awan menggumpal, tetap saja menatap langit biru amat menentramkan. Kemudian, tiba-tiba saja terlintas dipikiran sebuah pertanyaan. Apa aku sanggup menjalani hidup singkat yang terasa panjang dan melelahkan ini sampai akhir?

361

  Hai bagaimana kabarnya? this year is almost over, right? Tulisan ini dimulai dengan helaan napas yang berat. Teringat memori yang terjadi dalam satu tahun terakhir. Bagaimana kamu menilai waktu selama ini? apakah waktu berlalu begitu cepat? atau kah sebaliknya? Yang pasti, begitu banyak hal yg terjadi bukan? Dulu aku sempat membayangkan bahwa di tahun ini hidup akan berjalan dengan terukur, lurus, dan terencana. Namun setelah dipikir-dipikir, semua yang terjadi dalam hidup ini serba mendadak ya. Segala hal mungkin bisa kita terawang sesuka hati, tapi pada akhirnya yang benar-benar terjadi takkan mungkin mampu kita tebak bagaimana hasil akhirnya. Sudah berapa banyak yang hilang di tahun ini? Sudah berapa banyak hal yang kamu temukan dalam pencarian mu tahun ini? Aku berharap sebanyak apapun hal yang telah hilang, semoga segera kamu temukan hal lainnya yang lebih berharga dan mampu kamu jaga sebaik-baiknya ya. Kalau diizinkan berbagi, tahun ini I’ve tried so hard to cope better lif...

Senja Untuk Kekasihku

Oh kekasihku, Bagaimana mungkin ini semua akan terlupakan Sedangkan kau masih terpatri dalam hatiku Begitu pula diriku, masih terpaut  dalam hatimu jua yang murni itu Meski skizofrenia telah merenggutmu dariku, Anastasyaku, Kau tetap senja terindah dalam hidupku, Jingga, sendu, dan mengharu.. ( 2012. Lelaki itu, duduk terpaku dilorong rumah sakit. Seluruh bagian tubuhnya berasa hancur untuk pertama kalinya. Pikirannya kalut. Memori-memori di otaknya seakan seperti berputar-putar dalam kepalanya. Dokter yang baru saja ditemuinya telah mendiagnosa Anastasya, kekasihnya, dengan diagnosis schizophrenia paranoid. Ia begitu terguncang mendengar diagnosa dokter itu. Anastasya, kekasihnya, istrinya, yang baru ia nikahi 3 bulan yang lalu, yang ia pacari dulu 4tahun yang lalu, bagaimana bisa skizofrenia merenggut Anastasya dari lelaki itu.. Merenggut semua ingatannya, merenggut kehidupannya yang indah itu, dan merenggut senyuman mungilnya yang syahdu. Ia begitu tak mengira b...