Skip to main content

361

 


Hai bagaimana kabarnya? this year is almost over, right?

Tulisan ini dimulai dengan helaan napas yang berat. Teringat memori yang terjadi dalam satu tahun terakhir. Bagaimana kamu menilai waktu selama ini? apakah waktu berlalu begitu cepat? atau kah sebaliknya?

Yang pasti, begitu banyak hal yg terjadi bukan? Dulu aku sempat membayangkan bahwa di tahun ini hidup akan berjalan dengan terukur, lurus, dan terencana. Namun setelah dipikir-dipikir, semua yang terjadi dalam hidup ini serba mendadak ya. Segala hal mungkin bisa kita terawang sesuka hati, tapi pada akhirnya yang benar-benar terjadi takkan mungkin mampu kita tebak bagaimana hasil akhirnya.

Sudah berapa banyak yang hilang di tahun ini? Sudah berapa banyak hal yang kamu temukan dalam pencarian mu tahun ini? Aku berharap sebanyak apapun hal yang telah hilang, semoga segera kamu temukan hal lainnya yang lebih berharga dan mampu kamu jaga sebaik-baiknya ya.

Kalau diizinkan berbagi, tahun ini I’ve tried so hard to cope better life in general. Tapi tak satupun yang berujung baik. Sempat hopeless dengan kondisi beberapa waktu lalu, merasa semua hal berantakan dan semua orang menyebalkan. I was so anxious. Sometimes I want to be rescued, but also wanna distant myself from others. It’s complicated. Challenges and dillemas confronted me. 

I blame myself. 

Bukankah sesekali kita semua pernah menyalahkan diri sendiri terhadap kegagalan yang terjadi pada hidup? Bukankah sesekali kita pernah mengutuk segala kesialan yang terjadi pada hidup? Amor fati — cintailah nasib. Apa yang telah terjadi dan terjadi saat ini. Begitulah kata orang di luar sana. Tapi percayalah, melakukan itu membutuhkan keikhlasan dan kesabaran yang cukup besar. Dan aku belum cukup sabar serta hebat untuk mencapai di titik itu. Menerima dan mencintai nasib. Aku masih menjadi orang yang sering menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Malah, merasa diri ini semakin menjadi pribadi yang buruk. Hurt and offend others. Sengaja maupun tidak sengaja. Angry easily. Kalo kata anak-anak jaman sekarang “kesabaranmu hanya setipis tisu” Mungkin seperti itulah aku yang sekarang. Sekuat tenaga ingin menjadi perempuan yang lebih baik. But in the end, I ruin everything. Would you suggest me what can I do then?


Some more bucket lists

2023. 

Adjust your focus

Get your hair done

Get a massage

Take a bubble bath

Try to travel solo

Watch funny movie

Tell some jokes

Go for walk in a beautiful place

Turn on your favorite music-loud


I hope those simple things could sustain your life.


Comments

Popular posts from this blog

Random thought I

 Gedung-gedung ini begitu megah dan menjulang tinggi. Seakan mereka ingin menantang langit. Aku berdiri di depan bangunan yang terlihat amat kokoh sambari mendongak. Sepintas merasa kerdil dan hampa. Namun, bukankah menatap langit selalu membuat tenang? Meski amat terik dan polusi mengudara di seluruh penjuru kota dan tiada awan menggumpal, tetap saja menatap langit biru amat menentramkan. Kemudian, tiba-tiba saja terlintas dipikiran sebuah pertanyaan. Apa aku sanggup menjalani hidup singkat yang terasa panjang dan melelahkan ini sampai akhir?

Senja Untuk Kekasihku

Oh kekasihku, Bagaimana mungkin ini semua akan terlupakan Sedangkan kau masih terpatri dalam hatiku Begitu pula diriku, masih terpaut  dalam hatimu jua yang murni itu Meski skizofrenia telah merenggutmu dariku, Anastasyaku, Kau tetap senja terindah dalam hidupku, Jingga, sendu, dan mengharu.. ( 2012. Lelaki itu, duduk terpaku dilorong rumah sakit. Seluruh bagian tubuhnya berasa hancur untuk pertama kalinya. Pikirannya kalut. Memori-memori di otaknya seakan seperti berputar-putar dalam kepalanya. Dokter yang baru saja ditemuinya telah mendiagnosa Anastasya, kekasihnya, dengan diagnosis schizophrenia paranoid. Ia begitu terguncang mendengar diagnosa dokter itu. Anastasya, kekasihnya, istrinya, yang baru ia nikahi 3 bulan yang lalu, yang ia pacari dulu 4tahun yang lalu, bagaimana bisa skizofrenia merenggut Anastasya dari lelaki itu.. Merenggut semua ingatannya, merenggut kehidupannya yang indah itu, dan merenggut senyuman mungilnya yang syahdu. Ia begitu tak mengira b...